SPACE BETWEEN US

Uncategorized

Hari ini berkeinginan untuk kembali mengingat beberapa kejadian yang sudah berlalu sangat lama. Menggali beberapa kenangan yang sudah hampir terlupakan. Manusia itu tempatnya lupa, kadang beberapa orang mudah menyampaikan kalimat itu ketika melupakan sesuatu. Begitu juga denganku. Aku ini sangat lemah soal mengingat. Terkadang perlu buku catatan untuk menyimpan beberapa hal penting. Jujur saja, hingga saat ini nomor telepon yang aku ingat diluar kepala hanya nomor telepon genggam ku dan mantan atasan ku. Lucu sekali. Saat mencoba menyimpan sebuah lokasi didalam memori pikiran pun, yang tersimpan bukan alamat lengkap, melainkan patokan-patokan jalan menuju lokasi. Payah sekali bukan?.
Semenjak mengetahui kelemahan mengingat yang sangat payah ini, aku terbiasa untuk menulis kegiatan sehari-hari, melalui sebuah buku, bisa disebut buku “diary”. Lebih tepatnya si pendengar setia, yang menampung begitu banyak kejadian yang aku ceritakan, terlebih juga tentang rasa yang ku rasakan. Hingga hari inipun aku masih suka menulis, menyampaikan perasaan melalui untaian cerita ataupun kalimat-kalimat bermajas. Hal ini seperti sesuatu yang mendarah daging, sehingga sulit untuk di tinggalkan.


Back to the topic.

Beberapa saat lalu, aku mengunjungi salah satu rumah kerabat dekat di Bandung. Baru tiba disana pandanganku tertuju pada tumpukan album foto disebelah sofa. Kuraih beberapa tumpukan teratas dan mulai membuka satu persatu lembaran setiap album. Baru lembaran pertama, ada penampakan seorang gadis bermata bulat, berambut pendek dengan poni depan menutupi jidat lebarnya. Tertawa saat melihat penampakan itu. Tau itu siapa? Hahaha itu aku. Masih mungil, mungkin baru sekitar umur 4 sampai 5 tahun. Semakin dibalik lembaran-lembaran album itu, terdapat banyak potret diriku yang terekam, makin lama dilihat, perasaan ini berubah menjadi haru. Aku diajak kembali mengingat kenangan demi kenangan bersama Kakek (Ayah dari Papa). Ku sebut beliau dengan “Aki”. Beliau sudah 8 tahun pergi meninggalkan aku dan keluarga besar di Bandung. Kalau di ingat lebih tepatnya Aki berpulang ke Rahmatullah pada 12 Maret 2009, sekitar 5 hari lagi adalah peringatan 8 tahun kepergiannya. Kebayang dong gimana rasanya? Mencoba mengingat kembali sebuah kenangan.
Ceritaku dan Aki tidak terlalu banyak. Karena semasa hidup, Aki lebih banyak di Bandung sedangkan aku semenjak lahir hingga umur 18 tahun menghabiskan waktu di Bali. Tapi Aki adalah Kakek yang sangat mencintai seluruh cucu-cucu nya, meskipun jauh-nya jarak terbentang beliau selalu menyempatkan beberapa kali untuk mengunjungiku di Bali. Hal yang paling terekam dari Aki menurut pandanganku adalah fisik beliau. GAGAH !. Namanya juga Pahlawan, pasti Gagah dong! Tapi beliau itu masih bisa menggendong aku disaat badanku sudah bukan anak-anak lagi, yah walaupun hanya beberapa detik, karena saat itu aku khawatir membuat tulang-tulang Aki patah. Hahahaha kalau aki tau pengakuan yang ini, pasti beliau langsung meraihku dalam pelukannya. Masih terekam jelas, suara Aki waktu menyanyikan lagu khas sunda setiap bercanda denganku. Masih inget juga loh, waktu Aki bilang akan terus sehat sampai aku Menikah. Saat ditanya cita-cita sama Aki yang terucap saat itu adalah, ingin menikah didampingi Aki. Padahal tau nggak, saat itu aku baru berumur 9 tahun!!.

Kalau lagi sama Aki, aku nggak pernah mau bermain selain main sama Aki, soalnya Aki seru banget kalau nemenin cucu-cucu nya main, bercerita tentang zaman perang, sambil contohin bunyi tembakan, trus aku bisa sampe nangis waktu Aki cerita kuping nya kena tembak sehingga tidak bisa berfungsi dengan normal, dan harus menggunakan alat pendengar. Trus Aki berhenti cerita dan selalu bilang “jadi perempuan nggak boleh cengeng”. Selain pandai bercerita, Aki juga suka ngajarin sulap, ada aja yang disembunyiin terus tiba-tiba lenyap dan kemudian muncul di salah satu bagian tubuh Aki. Dulu aku melihatnya sambil tercengang, kalau sekarang mungkin aku akan bilang “Ah Aki, itumah uda pernah liat di youtube trick nya”. Ingin sekali bisa mengatakan itu.
Selain jadi Kakek, Aki adalah sahabat pena pertamaku. Saat udah mulai bisa nulis (dengan huruf yang nunggang nungging nggak jelas) aku diminta Aki untuk mulai nulis surat, entah kalimatnya banyak atau sedikit, pasti Papa bantuin kirim ke Kantor Pos. Paling seneng kalau sudah kedatangan Pak Pos ke rumah, pasti itu ada surat balasan dari Aki. He’s the one and only. Trus diganti dengan minggu atau bulan berikutnya aku mengunjungi Kantor Pos. Ritual yang menjadi hobi waktu masih SD, ke Kantor Pos, milih-milih prangko untuk surat yang mau dikirim. Sungguh, aroma lem, bentuk meja di kantor pos itu menjadi begitu jelas di pikiranku sore ini.

Kemudian saat aku yang berkunjung ke Bandung, Aki pasti mengajakku duduk bersama sambil memberikan hasil tulisanku di surat-surat untuk Aki, dan memintaku untuk membacakan kembali untuknya. Sampai waktu Papa melihat aku membaca pelan, Papa langsung berseru “Yang keras kak!! Biar Aki bisa dengar!!” Aku menjawab dengan lirih “Tapi kan nggak sopan Pah, Aki kan lebih tua”. Dijawab sama Aki, “Ayoo yang keras Win, kuping Aki kan udah nggak bisa dengar kalau suaranya nggak dikerasin.”


Sosok yang akhir-akhir ini menjadi bunga tidurku, Beberapa kali sering menatapku dari kejauhan tanpa mengatakan apa-apa, seolah mengawasiku.

Sedih bila merasakan betapa rindu ini tak bisa terbalaskan.

Namun aku sadar, Aki sudah tenang.

Aki akan selalu ada dihatiku, sampai kapanpun.


With Love,

Your Granddaughter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s